teks sebelum di revisi
Adithia Syahbana. Penulis, penyair muda inspirasi mahasiswa dan mahasiswi.
Sorotnya mengulti hampa
Jalan tak berkompas
Kata tiada kapital atau titik atau satu atau abstrak.......
Mungkin bagi sebagian mahasiswa UGJ terutama di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, sudah tidak asing lagi dengan sosok penyair muda yang satu ini begitupun dengan karya-karyanya. Adithia Syahbana, beliau adalah seorang mahasiswa sekaligus seorang penulis dan penyair muda dari Cirebon. Di usia mudanya beliau telah menerbitkan beberapa buku. Setiap kesuksesan selalu ada proses dan setiap proses selalu ada pembelajaran, begitupun yang dilalui oleh penyair muda ini.
Adithia Syahbana dilahirkan pada tanggal 6 Desember di Cirebon, Jawa Barat. Kini ia bertempat tingga di desa Karang Malang RT/RW : 02/06, kecamatan Karang Sembung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Menurutnya menulis merupakan alat terapi diri untuk menjadi diri sendiri dari kehidupan yang gaduh. Namun, semakin lama menulis menjadi sebuah hobi dan kebetulan mendapatkan ruang pertemanan yang mendukung bagi dirinya untuk memberanikan diri untuk lebih serius dalam bidang menulis. Beliau mulai tertarik menulis sejak duduk dibangku kelas XI SMA, beliau memulai tulisannya yang memiliki makna cinta, dan beliau juga sering dimintai tolong menulis puisi untuk teman- temanya dan mengunggah tulisannya dimedia sosial. Beliau termotivasi dari dirinya sendiri, untuk dirinya sendiri dan bukan untuk orang lain.
Kehidupan Adithia Syahbana
Adithia Syahbana menyelasaikan jenjang pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 2 Karang Malang tahun 2011, kemudian melanjutkan jenjang sekolah menengah pertama di SMP Negeri 1 Karang Sembung sampai tahun 2014 dan menyelesaikan jenjang pendidikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Lemahabang sampai tahun 2017. Setelah lulus beliau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yakni di Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ). kini beliau menjadi mahasiswa di UGJ di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain menjadi mahasiswa aktif di UGJ, beliau juga menjadi Koordinator Minat dan Bakat di HMJ Diksastrasia UGJ dan aktif pula bergiat di komunitas Senja Sastra, Andara Rasa, dan Juang Sastra UGJ Cirebon.
Proses kreatif
Adithia Syahbana mulai tertarik menulis sejak duduk dibangku kelas XI SMA, awalnya beliau lebih tertarik untuk menulis sebuah novel, namun karena merasa belum mampu menyelesaikan karyanya itu, akhirnya karyanya tersebut tertunda. “saya nulis itu dari kelas XI SMA, dulu itu nulis kaya yang bucin banget gitu, kadang-kadang saking seringnya upload di sosial media juga sampai dimintai oleh teman- teman cewek, awalnya saya nulis novel karena merasa belum mampu menyelesaikan akhirnya tertunda sampai akhirnya saya kuliah bertemu dengan teman-teman kemudian saya juga bertemu dengan dosen kajian puisi yaitu ibu Ira, kemudian saya diarahkan ke penulisan puisi oleh beliau, pada saat saya semester 2 bertemu Bu Ira dengan mata kuliah Apresiasi Puisi dan akhirnya saya ikut komunitas Juang Sastra Unswagati, Senja Sastra, dan dari situ saya mulai benar-benar menekuni dunia menulis, sebenarnya bukan hanya menulis puisi, banyak menulis cerpen, novel, tapi saya lebih percaya diri dengan puisi-puisi saya”. Ujar Adithia Syahbana dalam wawancara bersama kami melalui aplikasi android.
Menurut Adithia Syahbana dalam wawancara darring, untuk menulis sebuah buku hal terpenting yang harus dilakukan oleh seorang penulis berbeda-beda karena hakikatnya setiap penulis memiliki jalannya masing-masing. Namun dalam menulis beliau selalu memperhatikan yaitu:
Sebelum menulis setidaknya isi terlebih dahulu pikiran dan perasaan kita dengan cara membaca, menonton, menyimak atau yang lainnya.
Tentukan tema dan gaya penulisan. Gaya penulisan ini yang menunjukkan diri sipenulis tersebut. Yang terpenting ketika menulis jadilah diri anda sendiri.
Gawai sudah sangat cukup mempengaruhi anak muda zaman sekarang. Hampir setiap anak sudah kecanduan dengan alat komunikasi canggih tersebut. Tips dari penyair muda ini agar semangat untuk menulis dan membaca puisi adalah menikmati diri sendiri, maksudnya selama ini kesulitan yang sering dialami adalah kesulitan untuk mendapatkan waktu dan mendapatkan ruang untuk menjadi diri sendiri. Jadi inilah salah satu hal yang sangat-sangat penting untuk membangkitkan semangat dan lebih menikmati diri sendiri.
Karya karya Adithia Syahbana
Adithia Syahbana sebagai penyair muda dari UGJ Cirebon, karya sastra atau tulisan-tulisannya telah banyak tersiar di berbagai koran dan media darring, seperti Takanta.id, Nusantara News, Kawaca.com, Penakota.id, majalah Simalaba, Riau Pos, Palembang Ekspress, Radar Cirebon, Kabar Cirebon, dan lainnya.
Lalu pada tahun 2019 tulisan-tulisannya termuat dalam buku antologi puisi terbaik (nasional) Matinya Si Pemuda (OASE Pustaka 2019). Kemudian tulisan-tulisannya juga terpilih dan diabadikan di Kantung Budaya @Leitstar_id serta dipamerkan dalam festival SHFT Jakarta tahun 2019, serta telah dialihwahanakan dalam bentuk drama berjudul Berpulang oleh HMJ Diksastrasia dan dalam bentuk lagu (Berpulang, Bahagia itu Luka, dan Malam Lengang Malam Pertanyaan) oleh Ade Arthur. Hingga kini beliau masih produktif menulis dan telah menerbitkan beberapa buku, seperti :
Terima Kasih Wanitaku (Ellunar Publisher, 2017)
Lingkar Kompleksitas (Orbit Indonesia, 2019)
Bentang Sayap Hari Putih (Asbanabook, 2019)
Penyair kelahiran tahun1998 ini karyanya menjalar diberbagai media cetak dan online. Semangat beliau untuk berkarya sangat menginspiasi kita semua. Di tengah kesibukkan dan kesulitan menemukan waktu yang luang beliau tetap berusaha meluangkan waktu untuk berkarya. Semangat dan kerja keras beliau dalam proses belajar menulis sangat memberikan contoh baik bagi mahasiswa dan mahasiswi bukan hanya di UGJ melainkan di universitas lainnya. Berawal dari hobi menulis dimedia sosial kini berujung di posisi sebagai penyair muda dari cirebon. Bukan hanya mengharumkan nama baik bagi diri sendiri. Namun, beliau juga mengharumkan nama baik bagi universitas dan sekolah-sekolah asalnya serta daerah asalnya serta keluarganya. Begitu banyak hal yang dapat dicontoh dan dibanggakan dari perjuangan penyair muda ini. Terutama semangat belajarnya dalam belajar dan menemukan hal baru.
Pada judul seharusnya menggunakan huruf tebal, penceritaan menarik
BalasHapus